IMDI STAI DDI Pangkep Melaksanakan kegiatan Diklat Kader Dasar(DKD) Untuk Kader Baru

IMDI STAI DDI Pangkep melaksanakan kegiatan Diklat Kader Dasar(DKD) untuk kader baru IMDI yang bertempat di Aula Kampus STAI DDI Pangkep ,Senin(2/9/2019).

Dalam kegiatan ini di hadiri oleh Komisioner Bawaslu Provensi Sulawesi selatan  Dr.Saiful Jihad, M.A yang bertindak sebagai Narasumber  dalam penyampaiannya belaiu memberikan  wejangan kepada  mursyid-mursyidah IMDI STAI DDI Pangkep untuk  Jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah merasa cukup dalam belajar guna mempersiapkan diri menggapai masa depan yang lebih baik. Belajar itu sangat penting bagi kehidupan manusia, olehnya itu disarankan cari dan tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya sampai ke Negeri Cina, “Ungkpanya

Lebih lanjut Belau mengatakan Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.

Belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya, kata Dr.Saiful jihad

Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.

Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.

Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya Anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan. Tapi, tentunya tidak demimkian dengan adik-adik mahasiswa-mahasiswi di STAI DDI Kabupaten Pangkep ini. Adik-adik mahasiswa – mahasiswi di STAI DDI Kabupaten Pangkep belajar karen ada kesadaran untuk menggapai masa depan yang lebih baik, tandasnya.

Berbicara tentang Ke- DDI – an, menurut Saiful, DDI didirikan pada saat bangsa ini berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Para ulama pendiri DDI, khususnya KH. Abd. Rahman Ambo Dalle, menjadi rujukan para pejuang sebelum berangkat ke medan laga. Di sisi lain, mengorganisir dan membuat wadah yang dapat menyatukan gerakan dakwah para ulama pengikut Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah juga menjadi sebuah kebutuhan yang dianggap mendesak. Dua konteks realitas ini yang tidak bisa dipisahkan dari kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi, dan diberi nama Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).

Berkaca dari realitas di atas, maka warga DDI, kader DDI, kader IMDI dimanapun dan kapanpun, akan selalu menjadi pilar dan benteng kokoh ajaran Islam Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, dan pilar serta benteng bagi tegak-berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. (sikra)