Ada tantangan yang tidak mudah dilewati ketika melakukan kerja kreatif atas sesuatu yang tumbuh di banyak kepala lintas generasi. Patok ini bisa menimpah siapa saja dan model kerja kreatifnya seperti apa.
***

Dalam film, misalnya, melakukan konstruksi ulang atas ingatan kolektif itu tentu tak bisa memuaskan semua pihak. Seri pertama tetralogi buru, Bumi Manusia yang digarap Hanung Bramantyo menjadi contoh paling mutakhir yang mengundang lapisan pembaca novel Pramoedya Ananta Toer bersuara.
Meski harus dipahami memang, kalau metode kerja sutradara dan novelis itu berbeda. Mengingat proses semacam ini sudah berlangsung lama. Ada pula yang mampu melewatinya dengan baik. Sisanya berakhir di kepala masing-masing penonton.
Sejak diumumkan bakal diputar di gedung tua di area bekas kantor PT Semen Tonasa I. Film pendek Pattado-tado Ulu telah berusaha membangkitkan dua ingatan sekaligus. Pertama, gedung tua yang dimaksud itu dulu memang pernah menjadi gedung bioskop yang memutar sejumlah film Indonesia di akhir dekade 90 an. Kedua, Pattado Ulu cerita fiktif yang selalu menjadi senjata bagi orangtua menakuti anak-anak mereka agar tidak berkeliaran di siang bolong atau di waktu malam.
Sejauh mana cerita Patado Ulu menjadi kebenaran. Takarannya, salah satunya, bisa dilakukan ke dalam medium seni sebagai ruang pertarungan interpretasi. Sebagai cerita (oral) yang dituturkan orangtua atau siapa saja dan berhasil menghentikan langkah anak-anak berkeliaran, maka pada posisi itulah kebenarannya. Kebenaran fiksi, tentu saja.
Prakondisi cerita ini tumbuh di alam totaliter. Minus refleksi dan referensi. Hasilnya kebudayaan bisu. Dan, itu merupakan tujuan yang dikehendaki. Sebagai cerita yang diperuntukkan untuk anak-anak tentu saja buruk. Kalaupun cerita ini diperuntukkan semua kelompok usia, bayangan menggurui jelas ada. Tabiat usia dewasa selalu menekankan kuasa pada usia di bawahnya.
Wujud mutakhir dari horor Pattado Ulu sebagai lanskap horor kekuasaan bisa dijumpai dalam teror penembak misterius (Petrus) kadar kebenarannya sungguh dirasakan untuk menguatkan rezim Orba. Ini proyek kerangka sosial dalam menciptakan stabilitas. Manusia yang susah diatur atau, berpotensi merusak kekuasaan akan dihilangkan. Konstuksi kebenaran fiksinya bisa dijumpai di lagu Iwan Falls, Ada Lagi yang Mati atau di sejumlah cerpen Seno Gumira Adji Darma, utamanya yang terangkum di kumcer Saksi Mata.
Jika menyangkakan, dan itu yang banyak dilakukan kemudian diterima sebagai satu-satunya rujukan, perihal Pattado Ulu ini pada kondisi masyarakat ketika belum mengenal teknologi. Bila mencari di Google referensi kaitan kepala manusia dengan konstruksi jembatan, mentok pada penjelasan berulang mengenai kesalahpahaman yang ditangkap warga (terbelakang) dengan ahli (diasosiasikan seorang ahli dari luar dalam hal ini para penjajah yang pernah datang. Bisa orang Belanda, Inggris, Portugis, atau Jepang). Sekali lagi, rujukan tersebut sungguh multi tafsir. Tetapi, jika mengacu banyaknya bangunan di nusantara (Hindia Belanda) adalah orang Belanda yang banyak melakukan pembangunan infrastruktur.
Pattado Ulu, makna literernya horor. Ada proses bengis dalam mewujudkannya. Mata kamera di awal film berusaha membingkai itu. Dua orang mengintai perjalanan tiga pelajar yang akan melakukan kerja kelompok di rumah temannya. Dialog pelajar menjelaskan Pattado Ulu yang menjadi pengantar pertama bagi penonton.
Selanjutnya, adegan komikal diperagakan Si Pattado Ulu. Saya melihat ada dua tujuan. Pertama, pelaku Pattado Ulu ingin dikembalikan sebagai ulah manusia dengan segala keterbatasannya dan bukan sebagai kekuatan magis yang tidak bisa dilawan atau dihindari oleh calon korban. Kedua, ini ambigu sekaligus bentuk kecelakaan. Ambiguitas menyasar pada konsep bahwa, apakah film ini horor atau komedi. Kalau keduanya benar, maka itu kecelakaan untuk menertawakan minimnya referensi atau gegabah menyimpulkan di awal mengingat itu baru adegan awal.
Kembali ke asumsi awal kalau ini merupakan ingatan kolektif. Pattado Ulu adalah horor. Lapisan ingatan tiap generasi yang bisa saja berbeda. Namun, yang terekam kuat dan menjadi kunci tetap mengacu pada tindakan brutal yang ditimbulkan oleh pelaku. Tiga anak yang berlari menghindari dua orang Pattado Ulu menguatkan asumsi pertama di atas.
Pengantar kedua didapatkan oleh Baso yang menjelaskan teror Pattado Ulu kepada Dinda, seorang mahasiswa yang pulang kampung. Apa boleh buat, adegan komikal dua Pattado Ulu sebelumnya telah meruntuhkan asumsi horor. Pada dasarnya, kita tidak bisa berdalih pada medium film pendek atau film panjang. Durasi itu bukan batasan merelakan atau terpaksa menghindari visual yang berguna menguatkan cerita.
Film pendek atau panjang mengandung kualitasnya masing-masing. Upaya merayakan ingatan kolektif itu praktis tidak didapatkan dari sangkaan utama. Tujuan mendapatkan kepala manusia untuk penguatan konstruksi jembatan. Hal ini tentu pilihan, apakah melanjutkan cerita yang tidak jelas itu ataukah melakukan rekonstruksi rekaan untuk mendapatkan kebenaran fiksi.
Film ini memilih melanjutkan cerita yang mencari hidup di benak untuk generasi tertentu. Adegan pemenggalan kepala sebagaimana biasa ditampilkan di film bergenre gore. Penuntasan misteri Si Pattado Ulu yang menjadi ciri genre thiller tidak ditempuh meski, tentu saja, peluang itu sangat lapang dilakukan.
Atau paling tidak, kita bisa memiliki jembatan ingatan lain yang dijadikan kebenaran fiksi. Misalnya, saja, ada prakondisi jembatan selalu ambruk karena motode konstruksinya belum memakai pendekatan teknologi. Atau linear dengan salah satu penjelasan kalau salah satu cara membangun jembatan haruslah menggunakan semen yang kokoh, kuat, dan terpercaya supaya itu tidak berakhir sebagai cameo iklan semata karena ini diproyeksikan sebagai film.
Sebagai produksi indie, tentu tidak adil jika kita menuntut banyak adegan di film ini karena itu berkaitan cakupan suprastruktur dan infrastuktur. Tetapi, sebagai hasil produksi kreatif, kita perlu angkat topi karena mampu menggerakkan kaki-kaki untuk datang ke gedung tua di Tonasa I di pemutaran perdananya pada 27 Agustus lalu.
Sebagai lanjutan, nonton bersama dan diskusi karya ini menjadi pintu pembuka membicarakan beragam hal. Tidak banyak karya insan kreatif di Pangkep yang mampu menyedot perhatian seantusias ini (mengacu pada pemutaran perdana).
Secara umum dunia sinema di Indonesia masih berkutat pada kuantitas penonton. Gejala ini tentu tak lepas dari logika industri. Di titik tertentu bukanlah yang haram dilakukan. Namun, menjadi lain jika ada produksi karya visual yang kemudian memantik dan menggerakkan orang untuk menyaksikan.
Kita tahu bersama di Pangkep, ruang apresiasi dan kritik karya belumlah dianggap aset. Nonton bareng dan diskusi film ini tentulah menggembirakan dan menjadi gejala demokratis bila diupayakan terus menerus.
Badan Eksekutif Mahasiswa bersama Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da’wah Wal Irsyad Kabupaten Pangkep serta sejumlah mahasiswa nonton bareng film pendek berjudul Pattado-tado Ulu yang disutradarai Arman Pio, Produksi Komunitas Jalan Cerita dengan pemain Gilang Ramada, Rifdayanti R, Akbar Subandir, Bekz M Nasir, di Aula Kampus pada 10 September 2019. (sikra/f daus)

IMDI STAI DDI Pangkep melaksanakan kegiatan Diklat Kader Dasar(DKD) untuk kader baru IMDI yang bertempat di Aula Kampus STAI DDI Pangkep ,Senin(2/9/2019).

Dalam kegiatan ini di hadiri oleh Komisioner Bawaslu Provensi Sulawesi selatan  Dr.Saiful Jihad, M.A yang bertindak sebagai Narasumber  dalam penyampaiannya belaiu memberikan  wejangan kepada  mursyid-mursyidah IMDI STAI DDI Pangkep untuk  Jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah merasa cukup dalam belajar guna mempersiapkan diri menggapai masa depan yang lebih baik. Belajar itu sangat penting bagi kehidupan manusia, olehnya itu disarankan cari dan tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya sampai ke Negeri Cina, “Ungkpanya

Lebih lanjut Belau mengatakan Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.

Belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya, kata Dr.Saiful jihad

Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.

Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.

Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya Anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan. Tapi, tentunya tidak demimkian dengan adik-adik mahasiswa-mahasiswi di STAI DDI Kabupaten Pangkep ini. Adik-adik mahasiswa – mahasiswi di STAI DDI Kabupaten Pangkep belajar karen ada kesadaran untuk menggapai masa depan yang lebih baik, tandasnya.

Berbicara tentang Ke- DDI – an, menurut Saiful, DDI didirikan pada saat bangsa ini berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Para ulama pendiri DDI, khususnya KH. Abd. Rahman Ambo Dalle, menjadi rujukan para pejuang sebelum berangkat ke medan laga. Di sisi lain, mengorganisir dan membuat wadah yang dapat menyatukan gerakan dakwah para ulama pengikut Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah juga menjadi sebuah kebutuhan yang dianggap mendesak. Dua konteks realitas ini yang tidak bisa dipisahkan dari kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi, dan diberi nama Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).

Berkaca dari realitas di atas, maka warga DDI, kader DDI, kader IMDI dimanapun dan kapanpun, akan selalu menjadi pilar dan benteng kokoh ajaran Islam Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, dan pilar serta benteng bagi tegak-berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. (sikra)