Dr Muamar Baba, Lc.,MIRK  Dosen Tetap STAI DDI Pangkep adalah wisudawan program doktor terbaik 1 di UIN Alauddin 2019, Beliau Mengatakan  Lulusan terbaik dengan IPK tertinggi hanyalah bumbu akademisi, hal yang terpenting yang harus diperhatikan seorang akademisi adalah seberapa besar perhatian pada pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Sebaik-baik ilmuan itu yang memberikan manfaat lebih kepada orang lain.

Ada tantangan yang tidak mudah dilewati ketika melakukan kerja kreatif atas sesuatu yang tumbuh di banyak kepala lintas generasi. Patok ini bisa menimpah siapa saja dan model kerja kreatifnya seperti apa.
***

Dalam film, misalnya, melakukan konstruksi ulang atas ingatan kolektif itu tentu tak bisa memuaskan semua pihak. Seri pertama tetralogi buru, Bumi Manusia yang digarap Hanung Bramantyo menjadi contoh paling mutakhir yang mengundang lapisan pembaca novel Pramoedya Ananta Toer bersuara.
Meski harus dipahami memang, kalau metode kerja sutradara dan novelis itu berbeda. Mengingat proses semacam ini sudah berlangsung lama. Ada pula yang mampu melewatinya dengan baik. Sisanya berakhir di kepala masing-masing penonton.
Sejak diumumkan bakal diputar di gedung tua di area bekas kantor PT Semen Tonasa I. Film pendek Pattado-tado Ulu telah berusaha membangkitkan dua ingatan sekaligus. Pertama, gedung tua yang dimaksud itu dulu memang pernah menjadi gedung bioskop yang memutar sejumlah film Indonesia di akhir dekade 90 an. Kedua, Pattado Ulu cerita fiktif yang selalu menjadi senjata bagi orangtua menakuti anak-anak mereka agar tidak berkeliaran di siang bolong atau di waktu malam.
Sejauh mana cerita Patado Ulu menjadi kebenaran. Takarannya, salah satunya, bisa dilakukan ke dalam medium seni sebagai ruang pertarungan interpretasi. Sebagai cerita (oral) yang dituturkan orangtua atau siapa saja dan berhasil menghentikan langkah anak-anak berkeliaran, maka pada posisi itulah kebenarannya. Kebenaran fiksi, tentu saja.
Prakondisi cerita ini tumbuh di alam totaliter. Minus refleksi dan referensi. Hasilnya kebudayaan bisu. Dan, itu merupakan tujuan yang dikehendaki. Sebagai cerita yang diperuntukkan untuk anak-anak tentu saja buruk. Kalaupun cerita ini diperuntukkan semua kelompok usia, bayangan menggurui jelas ada. Tabiat usia dewasa selalu menekankan kuasa pada usia di bawahnya.
Wujud mutakhir dari horor Pattado Ulu sebagai lanskap horor kekuasaan bisa dijumpai dalam teror penembak misterius (Petrus) kadar kebenarannya sungguh dirasakan untuk menguatkan rezim Orba. Ini proyek kerangka sosial dalam menciptakan stabilitas. Manusia yang susah diatur atau, berpotensi merusak kekuasaan akan dihilangkan. Konstuksi kebenaran fiksinya bisa dijumpai di lagu Iwan Falls, Ada Lagi yang Mati atau di sejumlah cerpen Seno Gumira Adji Darma, utamanya yang terangkum di kumcer Saksi Mata.
Jika menyangkakan, dan itu yang banyak dilakukan kemudian diterima sebagai satu-satunya rujukan, perihal Pattado Ulu ini pada kondisi masyarakat ketika belum mengenal teknologi. Bila mencari di Google referensi kaitan kepala manusia dengan konstruksi jembatan, mentok pada penjelasan berulang mengenai kesalahpahaman yang ditangkap warga (terbelakang) dengan ahli (diasosiasikan seorang ahli dari luar dalam hal ini para penjajah yang pernah datang. Bisa orang Belanda, Inggris, Portugis, atau Jepang). Sekali lagi, rujukan tersebut sungguh multi tafsir. Tetapi, jika mengacu banyaknya bangunan di nusantara (Hindia Belanda) adalah orang Belanda yang banyak melakukan pembangunan infrastruktur.
Pattado Ulu, makna literernya horor. Ada proses bengis dalam mewujudkannya. Mata kamera di awal film berusaha membingkai itu. Dua orang mengintai perjalanan tiga pelajar yang akan melakukan kerja kelompok di rumah temannya. Dialog pelajar menjelaskan Pattado Ulu yang menjadi pengantar pertama bagi penonton.
Selanjutnya, adegan komikal diperagakan Si Pattado Ulu. Saya melihat ada dua tujuan. Pertama, pelaku Pattado Ulu ingin dikembalikan sebagai ulah manusia dengan segala keterbatasannya dan bukan sebagai kekuatan magis yang tidak bisa dilawan atau dihindari oleh calon korban. Kedua, ini ambigu sekaligus bentuk kecelakaan. Ambiguitas menyasar pada konsep bahwa, apakah film ini horor atau komedi. Kalau keduanya benar, maka itu kecelakaan untuk menertawakan minimnya referensi atau gegabah menyimpulkan di awal mengingat itu baru adegan awal.
Kembali ke asumsi awal kalau ini merupakan ingatan kolektif. Pattado Ulu adalah horor. Lapisan ingatan tiap generasi yang bisa saja berbeda. Namun, yang terekam kuat dan menjadi kunci tetap mengacu pada tindakan brutal yang ditimbulkan oleh pelaku. Tiga anak yang berlari menghindari dua orang Pattado Ulu menguatkan asumsi pertama di atas.
Pengantar kedua didapatkan oleh Baso yang menjelaskan teror Pattado Ulu kepada Dinda, seorang mahasiswa yang pulang kampung. Apa boleh buat, adegan komikal dua Pattado Ulu sebelumnya telah meruntuhkan asumsi horor. Pada dasarnya, kita tidak bisa berdalih pada medium film pendek atau film panjang. Durasi itu bukan batasan merelakan atau terpaksa menghindari visual yang berguna menguatkan cerita.
Film pendek atau panjang mengandung kualitasnya masing-masing. Upaya merayakan ingatan kolektif itu praktis tidak didapatkan dari sangkaan utama. Tujuan mendapatkan kepala manusia untuk penguatan konstruksi jembatan. Hal ini tentu pilihan, apakah melanjutkan cerita yang tidak jelas itu ataukah melakukan rekonstruksi rekaan untuk mendapatkan kebenaran fiksi.
Film ini memilih melanjutkan cerita yang mencari hidup di benak untuk generasi tertentu. Adegan pemenggalan kepala sebagaimana biasa ditampilkan di film bergenre gore. Penuntasan misteri Si Pattado Ulu yang menjadi ciri genre thiller tidak ditempuh meski, tentu saja, peluang itu sangat lapang dilakukan.
Atau paling tidak, kita bisa memiliki jembatan ingatan lain yang dijadikan kebenaran fiksi. Misalnya, saja, ada prakondisi jembatan selalu ambruk karena motode konstruksinya belum memakai pendekatan teknologi. Atau linear dengan salah satu penjelasan kalau salah satu cara membangun jembatan haruslah menggunakan semen yang kokoh, kuat, dan terpercaya supaya itu tidak berakhir sebagai cameo iklan semata karena ini diproyeksikan sebagai film.
Sebagai produksi indie, tentu tidak adil jika kita menuntut banyak adegan di film ini karena itu berkaitan cakupan suprastruktur dan infrastuktur. Tetapi, sebagai hasil produksi kreatif, kita perlu angkat topi karena mampu menggerakkan kaki-kaki untuk datang ke gedung tua di Tonasa I di pemutaran perdananya pada 27 Agustus lalu.
Sebagai lanjutan, nonton bersama dan diskusi karya ini menjadi pintu pembuka membicarakan beragam hal. Tidak banyak karya insan kreatif di Pangkep yang mampu menyedot perhatian seantusias ini (mengacu pada pemutaran perdana).
Secara umum dunia sinema di Indonesia masih berkutat pada kuantitas penonton. Gejala ini tentu tak lepas dari logika industri. Di titik tertentu bukanlah yang haram dilakukan. Namun, menjadi lain jika ada produksi karya visual yang kemudian memantik dan menggerakkan orang untuk menyaksikan.
Kita tahu bersama di Pangkep, ruang apresiasi dan kritik karya belumlah dianggap aset. Nonton bareng dan diskusi film ini tentulah menggembirakan dan menjadi gejala demokratis bila diupayakan terus menerus.
Badan Eksekutif Mahasiswa bersama Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da’wah Wal Irsyad Kabupaten Pangkep serta sejumlah mahasiswa nonton bareng film pendek berjudul Pattado-tado Ulu yang disutradarai Arman Pio, Produksi Komunitas Jalan Cerita dengan pemain Gilang Ramada, Rifdayanti R, Akbar Subandir, Bekz M Nasir, di Aula Kampus pada 10 September 2019. (sikra/f daus)